Era digital, orang dulu vs orang jaman now.

“Mas Bro, aku ngopi lagu sing mbok download kae dong..:

Hayoo, siapa yang pernah minta lagu ke teman-teman kuliahnya? Pasti pernah dong yaa? Wakakaka…

Sepertinya hampir semua orang di Indonesia ini pernah meminta ini kepada orang lain. Entah karena suka lagunya, lagi hits, atau penasaran dengan lagu tersebut. 

Biasanya sih yang minta kaum-kaum mahasiswa yang nggak mau ‘bondo’. 

Maklumlah, anak kampus tahu sendiri uang bulanannya seperti apa. Untuk mendownload lagu tersebut, pastilah membutuhkan laptop lalu konek wifi kampus, ke warnet untuk ngopi lagu, atau ke warnet sekalian download lagu-lagu yang lagi hits. Boro-boro punya laptop buat download lagu, wong laptop aja masih bisa dihitung jari siapa yang punya. Satu angkatan berisi 100 orang aja, bisa dihitung pake jari siapa aja yang punya laptop. Biasalah, anak kost perantauan paling keren sudah ada komputer dengan sound system biasa, yang penting ngebass. Dan tak lupa, nyetel musik pake winamp.. 

Semuanya pernah to, ganti-ganti skin winamp.

Piye bro, Spikerku wuenak to? Ngrakit dewe iki awakku”, sambil pamer.  

Nah, mahasiswa kere ini ke warnet biasanya hanya untuk ngopi lagu yang sedang hits. Tak jarang, mereka juga ngopi film-film yang sudah didownload oleh operator warnet. Atau, kalo malam, berarti bisa jadi sebenarnya adalah mereka adalah hacker yang pada jaman dulu masih marak, seperti carding contohnya. Wakakaka… 

Dan bersyukurlah jika ada teman yang rela bagi-bagi file lagu hasil hunting di warnet, tanpa ada embel-embel permintaan. Apalagi nggak minta dibantuin bikin tugas. 

Paling nggak sudah nggak seperti beberapa tahun sebelum berkuliah. Dimana kalau ingin punya lagu yang lagi hits, harus merekam lagu di radio menggunakan kaset kosong, atau kaset bekas punya bapak yang diambil diam-diam. 

Ya too,, siapa yang pernah kayak gini? 

Dan mau tahu akibat seringnya berbagi lagu ke teman-teman kuliah? 

“Joko, flesdisku kok isine dadi ilang kabeh? Mbok apakno iki flesdisku? Jawab Joko, Jawab!”, tanya Marni penuh emosi.

yang artinya mungkin seperti ini: “Ferguso, flashdiskku kok isinya jadi hilang semua? Kamu apakan flashdisku? Jawab Ferguso! Jawab!”, tanya Maria

Jaman kuliah dulu, salah satu alat pendukung kuliah yang sangat penting adalah flashdisk. 

Serius!

Flasdisk itu ibarat senjata pamungkas yang isinya bisa bermacam-macam. Bisa tugas kuliah, laporan praktikum, Mp3, atau bisa juga berisi file 3gp terbaru yang disembunyikan dalam folder bernama ajaib seperti virus yang berisi ratusan folder yang didalamnya juga berisi folder-folder pengecoh, dan tak lupa membuat file tak terlihat. 

Untung, kapasitas flashdisk yang cuma 512 MB itu cukup buat nyimpan apa aja. 

File tugas kuliah, bisa dipastikan karena di kosan nggak ada yang namanya printer. Ngerjain di kosan, ngeprintnya di rental komputer.  

Dan tentu saja, selepas dari rental komputer, yang terjadi adalah file di dalam flashdisk akan beranak pinak, karena ditambahkan file-file baru yang bernama virus. 

Sebenarnya, yang yang terjadi adalah virus dengan gampang menyebar dari satu komputer ke komputer lain. Biasanya sih yang punya komputer atau rental komputer itu nggak sadar kalo ada virus di komputernya. 

flashdisk jadul

Bagaimana tidak tertular, lha wong flashdisknya itu ibarat orang yang suka bergonta-ganti pasangan. #eh.

Alhasil, para pemilik komputer dalam satu kampus bisa punya jenis virus yang sama. 

Namun Hal yang berbeda terjadi di jaman sekarang.

Era digital ini, semuanya dapat dilakukan sendiri, tanpa perlu meminta bantuan orang lain jika ingin mendengarkan sebuah lagu favorit. 

Sebut saja Spotify yang iklannya itu loh, ada di mana-mana. 

Dengerin lagu Cuma bayar 4,900 rupiah per bulan. Murah byanget to, jika dibandingkan jaman dulu? Coba aja dihitung, sewa warnet sejam berapa. Untuk download lagu butuh waktu berapa lama. Kalo sekarang sih, tanggal buka hp dan pencet sana pencet sini, lagu sudah terdengar. 

Kemarin juga gitu, waktu saya bertanya ke mahasiswa saat ada kegiatan gathering mahasiswa,

“Lagu-lagunya bagaimana? sudah disiapkan?”, tanya saya.

“Sudah, Pak”, jawab mereka simple.

Dan waktu kulihat, ternyata mereka sudah menyiapkan playlist di aplikasi Spotify milik mereka. Bahkan mereka pun cukup memutar playlist mereka dengan menggunakan handphone dan terkoneksi speaker bluetooth. Weleh-weleh… kalah canggih aku..

Bayanganku, mereka akan butuh laptop, menancapkan flashdisk, dan menghubungkannya ke speaker yang sudah ada melalui kabel jack audio 3,5 mm.

Dan ternyata meleset jauh. Ha..ha..ha… Era digital sekarang memang canggih ya.  

Dan kemarin pada saat program studi kami mengadakan kunjungan industri ke pabrik yang cukup jauh dari kampus pun, saya cukup terkejut. 

Bis yang kami naiki, itu bis kota yang sound systemnya nggak begitu wah. Awalnya kami mengira bahwa lagi yang dipitar berasal dari cd yang dimasukkan dalam cd player yang terpasang di bus. Kebetulan lagi yang diputar rata-rata bertempo lambat. Sementara para mahasiswa ingin mendengarkan lagu yang semangat dan bertempo cepat.

Coba tebak apa yang dilakukan? Apakah mereka menyiapkan flashdisk? 

Enggak laah..

Salah satu mahasiswa menghubungkan handphonenya ke pemutar lagu melalui Bluetooth doong. Padahal, sebelumnya sudah kutest pake Bluetooth punya iphone, ternyata malah bisanya pairing pake android, dan mereka menggunakan aplikasi Joox untuk memutar lagu-lagu yang mereka inginkan..

Lha, saya sendiri, masih pake aplikasi musik bawaan iPhone dan masukin lagu secara manual.. T_T

Sudah cukup. 

Cukup Rhoma!“, Kata Ani

Mari kita kupas sedikit, apa yang menarik dan seru dari era digital yang selalu berkembang ini. 

Sudah pernah main game online nggak? 

Counter Strike? Ragnarok? Dan lain sebagainya?

Saya dulu waktu jaman sekolah sampe kena marah ibu saya, karena hampir tiap hari ke warnet dan game center hanya untuk main counter strike. 

Sekarang? Ga punya komputer saja sudah bisa main game shooting dan strategi. Game yang dulu mainnya harus datang ke warnet, sekarang kapan saja bisa dimainkan. Musuhnya pun sudah bukan AI lagi atau teman satu kampung. Contohnya saja PUBG yang bisa dimainkan di handphone. Dan lawan mainmu, bisa saja orang dari planet lain, Bekasi contohnya. 🤣

Bayangin aja, kamu main di kamar mandi sambil nongkrong saja, orang lain yang juga memainkan game yang sama denganmu di waktu yang samac, bisa bermain bareng denganmu tanpa dibatasi tempat dan waktu. Cukup sediakan kuota dan handphone yang sekarang harganya sudah semakin terjangkau. 

**

Bagaimana dengan di kampus?

Pak, paper saya kapan dikoreksi?“, tanya mas Joko ke dosennya.

Kalo jaman dulu, saya harus nunggu berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan ada teman saya yang berbulan-bulan agar tugas akhir atau skripsinya dapat dikoreksi. Tugas akhir diketik, kemudian dicetak, digandakan, untuk kemudian diserahkan ke dosen pembimbing masing-masing baik langsung, atau harus diletakkan ke dalam loker dosen. 

Serunya sekarang, dosen menerima tugas akhir yang dikirim melakui email. Dan dosen bisa langsung memeriksa dan mengoreksi tugas akhir dengan cara mengunggah berkas tersebut ke cloud atau Google Drive, dan diedit secara on-the-fly, dan mahasiswa bisa langsung membetulkan setelah mendapatkan komentar dari dosen. 

Asyik to? Era jaman now pancen oye

Lha terus, apakah di era jaman now, orang-orang jaman old tidak memanfaatkan teknologi?

Justru orang jaman old lebih baik dalam memanfaatkan teknologi. Lebih banyak yang jadi seller dan provider ketimbang menjadi buyer atau user. 

Contohnya adalah penggunaan web untuk menyebarkan ide pikirannya atau menyampaikan informasi yang sedang hits, baik secara umum, atau pun profesional. 

Kalo dulu orang perlu berkirim ke redaksi koran dan majalah untuk menerbitkan tulisan, sekarang cukup membuat blog sendiri, dengan label sendiri.

“Wuih keren, kayak musisi aja pake label sendiri.”

Maksudnya ya, pake nama sendiri, nggak numpang nama koran atau majalah. 

Domain, kalo bahasa teknisnya. Disitu orang jaman now tinggal beli domain dan hosting sesuai kebutuhannya sendiri. Jadi nanti tinggal buat blog saja, masukkan tulisan dan jadi deh. Kalo nggak ngerti caranya, bisa membaca artikel cara membuat blog secara profesional.

Serunya lagi, selain bisa menyampaikan opini, ide, atau tutorial, bisa juga kita membuat sekolah sendiri ato semacam kelas private.

Sudah pernah belum belajar via online course? 

Kalo belum, maka perlu dicoba, tuh! 

Belajar nggak perlu lagi pake sepatu, baju rapi, dan datang langsung ke kelas. Cukup sediakan internet, pake handphone, atau menggunakan laptop. 

Dan jangankan belajar online, membuat kelas online saja juga bisa kok. Blog yang sudah dibuat tadi, sering-sering saja diisi ilmu yang bermanfaat. 

Jangan kayak blog ini, geje!

Sudah pernah belajar online di kamar mandi?

Jangan ditiru yaa,, Hahaha..

Yang jelas, saya menikmati serunya era digital di jaman ini.